Implementasi Green Skill: Mahasiswa Pendidikan Biologi Sulap Limbah Organik Rumahan dengan Metode Takakura
YOGYAKARTA, 31 Desember 2025 – Isu pengelolaan sampah yang semakin mendesak menuntut aksi nyata, bukan sekadar wacana. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UAD Angkatan 2023 menunjukkan kompetensinya dalam mengimplementasikan ilmu lingkungan melalui praktik pengelolaan limbah organik. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata dukungan program studi pendidikan biologi FKIP UAD terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Poin 4 (Kualitas Pendidikan), Poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan Poin 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan). Dengan mengelola sampah dari sumbernya, mahasiswa berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan meminimalisir jejak karbon.
Agenda yang dimulai pukul 08.00 WIB merupakan sebuah kelas lapangan untuk mengasah keterampilan teknis (hard skill) mahasiswa dalam mengubah sisa aktivitas rumah tangga menjadi produk bernilai guna.
Solusi Cerdas Lahan Sempit: Mengenal Metode Takakura
Fokus utama kegiatan ini adalah pembuatan kompos dengan Metode Takakura. Metode Takakura merupakan teknik pengomposan aerobik (membutuhkan udara) yang pertama kali diperkenalkan oleh Koji Takakura dari Jepang. Prinsip biologi dari metode ini adalah memanfaatkan agen hayati berupa mikroorganisme pengurai (dekomposer) yang dikembangbiakkan dalam media khusus di dalam keranjang berventilasi.
Metode ini dipilih karena sangat relevan bagi mahasiswa maupun masyarakat perkotaan. Berbeda dengan pengomposan anaerob yang seringkali menghasilkan gas metana berbau, Takakura mengandalkan sirkulasi udara yang baik sehingga proses pembusukan terjadi lebih cepat, higienis, dan tidak menimbulkan bau.
Mahasiswa mempraktikkan secara langsung tahapan pengomposan, mulai dari pemilahan sisa sayur dan buah sebagai sumber karbon dan nitrogen, hingga pengaturan kelembaban dalam keranjang. Teknik ini dinilai sangat aplikatif untuk diterapkan di lingkungan indekos maupun perumahan padat karena tidak membutuhkan lahan yang luas.
Respons Terhadap Kebijakan TPA
Kegiatan ini juga menjadi respons akademisi terhadap kebijakan pembatasan pembuangan sampah organik ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dra. Zuchrotus Salamah, M.Si., menekankan pentingnya kemandirian rumah tangga dalam mengelola sampah.
“Dengan mulai adanya kebijakan TPA tidak menerima sampah organik, hal ini menuntut rumah tangga untuk mulai mengelola sampah organik yang berasal dari aktivitas sehari-hari secara mandiri,” ujar Dra. Zuchrotus di sela-sela memberikan pendampingan praktik.

Inovasi Pestisida Organik dari Limbah Dapur
Tidak hanya berhenti pada pembuatan kompos, mahasiswa juga mengembangkan keterampilan dalam memproduksi pestisida organik. Dengan memanfaatkan “sampah” dapur yang biasanya terbuang, mahasiswa mengolahnya kembali dengan tambahan cairan gula dan aktivator EM4 (Effective Microorganisms 4).
Melalui sentuhan ilmu biologi, limbah tersebut difermentasi menjadi cairan multiguna yang ampuh mengusir hama tanaman tanpa residu bahan kimia berbahaya. Hal ini membuktikan bahwa mahasiswa Pendidikan Biologi mampu mengintegrasikan teori perkuliahan menjadi solusi praktis yang ramah lingkungan.
Diharapkan, melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan (agent of change) di masyarakat dalam mengkampanyekan gaya hidup zero waste dan pertanian organik berkelanjutan.




