Kurikulum Doa: Strategi Menembus National Taiwan University
Oleh Indro Prastowo, M.Biotech. Dosen Program Studi Pendidikan Biologi
Mengejar pendidikan hingga ke luar negeri bukanlah perkara mudah, namun juga bukan hal yang mustahil jika dibarengi dengan tekad yang kuat.Pengalaman saya mendaftar ke National Taiwan University (NTU) menjadi bukti nyata bahwa ketekunan adalah kunci. Cita -cita saya untuk menapakkan kaki di universitas luar negeri sebenarnya sudah berkobar sejak saya masih duduk di bangku S1. Namun, kenyataannya tidak semudah membalikkan telapak tangan; saya harus menelan pahitnya kegagalan sebanyak 12 hingga 13 kali. Mendaftar, ditolak, lalu mencoba lagi, saya bahkan sampai berada di titik merasa malu setiap kali harus kembali menemui profesor di UGM hanya untuk meminta surat rekomendasi kesekian kalinya.
Mengapa Memilih NTU dan Taiwan?
Pilihan saya jatuh ke Taiwan bukan tanpa alasan unik. Secara visual, ada kedekatan emosional saat melihat bendera Taiwan https://i.pinimg.com/1200x/4e/1d/7b/4e1d7baf149d1949d895cf06fe39cc37.jpg yang memiliki simbol matahari dengan 12 pancaran sinar—sebuah kemiripan yang mengingatkan saya pada lambang Muhammadiyah https://i.pinimg.com/736x/5f/10/50/5f1050e1d6c178fe3695e50931477efb.jpg. Mengapa NTU? Di NTU, saya menemukan bidang riset yang sangat spesifik dan sejalan dengan rencana masa depan saya, yaitu natural dietary products untuk pencegahan penyakit. Fokus riset di bawah bimbingan profesor saya nantinya akan mendalami bagaimana zat kimia alami dapat memodulasi aktivitas anti-kanker maupun anti-inflamasi dalam tubuh.
Perjuangan di Tengah Ujian Keluarga
Proses keberangkatan saya sempat tertunda karena ayah saya jatuh sakit tepat saat saya mendapatkan Letter of Acceptance (LoA). Saya harus mengajukan penundaan (deferment) dan fokus merawat beliau. Di tengah tekanan tersebut, saya tetap memaksakan diri untuk memperbaiki skor IELTS hingga mencapai 6.5 hanya beberapa hari sebelum ayah saya menjalani operasi.
Kunci Bertahan: “Kurikulum Doa”
Jika ada satu hal yang membuat saya tidak menyerah setelah belasan kali gagal, itu adalah apa yang saya sebut sebagai “Kurikulum Doa”. Kita memang harus berusaha keras meningkatkan kemampuan bahasa dan riset, tapi pada akhirnya, mengetuk pintu Sang Pencipta dengan tulus dan sopanlah yang akan membukakan jalan yang paling tepat.
Mengapa Dosen Harus ke Luar Negeri?
Sering muncul pertanyaan: apakah dosen harus kuliah di luar negeri? Bagi saya, jika ada kesempatan, jawabannya adalah iya. Ini bukan soal merendahkan kualitas pendidikan di dalam negeri, karena banyak juga subjek yang justru lebih baik dipelajari di Indonesia—seperti tanaman tropis. Namun, kuliah di luar negeri memberikan sesuatu yang tidak bisa didapatkan hanya dari buku melainkan pengalaman hidup. Kita dipaksa beradaptasi dengan bahasa, budaya, dan sistem pendidikan yang sepenuhnya berbeda. Pengalaman inilah yang nantinya akan memperkaya perspektif seorang dosen saat kembali mengajar di kampus asal.
Harapannya
Rencana besar saya setelah menyelesaikan studi adalah membawa ilmu tersebut kembali ke tanah air. Saya ingin mengeksplorasi lebih dalam potensi produk fermentasi khas Indonesia (seperti kluwak) memiliki manfaat kesehatan, misalnya sebagai anti-kanker, dapat terbukti secara ilmiah. Selain itu, saya berharap bisa menjembatani kerja sama internasional antara kampus-kampus di Indonesia dengan komunitas di Taiwan. Pesan Saya “Selalulah “melek” terhadap riset yang sudah ada melalui studi bibliometrik untuk menemukan celah riset (research gap) yang orisinal. Dan yang terpenting, awali segala ikhtiar dengan doa”.



