Cegah Bakteri Patogen, Kuliah Pakar Pendidikan Biologi UAD Bedah Inovasi Pangan Fungsional untuk Kesehatan Usus
YOGYAKARTA – Menjaga kesehatan sistem pencernaan kini menjadi fokus utama dalam tren gaya hidup sehat modern. Menjawab kebutuhan ilmiah tersebut, Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sukses menggelar Kuliah Pakar Bioteknologi pada Rabu (10/6/2026). Acara yang berlangsung di Aula Pendidik FKIP UAD ini fokus pada inovasi kesehatan pencernaan manusia melalui pemanfaatan bioteknologi pangan masa depan. Kuliah pakar ini menghadirkan pakar terkemuka, Yunika Mayangsari, S.Si., M.Biotech., Ph.D., yang merupakan Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam pemaparannya, Dr. Yunika mengusung tema menarik, yaitu “Makanan dan Bahan Fungsional Indonesia untuk Kesehatan Usus”. 
Mengenal Sistem Benteng Usus: Dari Probiotik hingga Postbiotik
Dr. Yunika menjelaskan bahwa kunci utama dalam menjaga kesehatan usus terletak pada dua mekanisme penting, yaitu memperkuat benteng (penghalang) usus dan menciptakan keseimbangan ekologi mikro di dalamnya.
Salah satu komponen krusial yang dibahas adalah Tight Junction Barrier, yaitu sistem pelindung yang bertugas menjaga dinding usus tetap rapat. Sistem proteksi ini sangat vital guna mencegah masuknya racun (toksin) dan bakteri patogen berbahaya ke dalam tubuh.
Untuk mendukung sistem tersebut, ia mengupas tuntas perbedaan empat komponen pangan fungsional yang saat ini sedang populer di dunia kesehatan:
Probiotik: Bakteri baik yang hidup dan aktif menjaga keseimbangan ekosistem usus.
Prebiotik: Serat makanan khusus yang menjadi pasokan makanan bagi bakteri baik.
Simbiotik: Kombinasi sinergis dalam satu produk yang mengandung probiotik sekaligus prebiotik.
Postbiotik: Zat bermanfaat yang dihasilkan dari hasil metabolit bakteri probiotik yang sudah diaktifkan.
Sentuhan Sains pada Fermentasi Tradisional dan Kuliner Lokal
Meskipun bioteknologi modern saat ini erat kaitannya dengan teknik molekular canggih seperti PCR (Polymerase Chain Reaction), Dr. Yunika mengingatkan audiens agar tidak melupakan pentingnya teknik fermentasi tradisional.
Jika dulu fermentasi hanya digunakan sebagai metode konvensional untuk mengawetkan makanan, kini ilmu pengetahuan membuktikan bahwa proses ini mampu menghasilkan metabolit baru yang kaya manfaat. Fermentasi terbukti mampu memicu peptida probiotik hingga menciptakan rasa gurih alami (umami), seperti yang ditemukan pada produk kecap dan kuliner lokal khas Indonesia, bakasang.
“Inovasi pangan fungsional berbasis kekayaan lokal tidak hanya ampuh menyehatkan usus, tetapi juga berpotensi besar menjadi produk pangan masa depan yang bernilai ekonomi tinggi,” urai Dr. Yunika di akhir sesi.



