Melampaui Literasi Digital: Mengapa Mahasiswa Calon Guru Harus ‘Berani Mencoba’ Teknologi?
Oleh Much Fuad Saifuddin S.Pd., M.Pd Dosen Program Studi Pendidikan Biologi
Dunia pendidikan saat ini tidak lagi bertanya “apakah kita butuh teknologi?”, melainkan “sejauh mana kita mampu mengintegrasikannya secara bermakna?”. Bagi mahasiswa calon guru, teknologi bukan lagi sekadar alat bantu presentasi, melainkan ekosistem pembelajaran itu sendiri. Namun, ada satu jurang yang seringkali luput dari perhatian kita: perbedaan antara paparan teknologi dan pengalaman mencoba secara mendalam.
TPACK: Bukan Sekadar Teori, Tapi Aksi
Dalam berbagai penelitian yang saya geluti, khususnya mengenai kerangka kerja Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), terlihat jelas bahwa penguasaan teknologi seorang calon guru tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus berkelindan dengan pemahaman konten materi dan cara mengajarkannya (pedagogi).
Hasil meta-analisis kami terhadap penggunaan media digital dalam pembelajaran biologi menunjukkan bahwa efektivitas teknologi tidak ditentukan oleh seberapa canggih fiturnya, melainkan oleh bagaimana calon guru “mengalami” teknologi tersebut sebelum membawanya ke kelas. Pengalaman mencoba (hands-on exploration) seperti mengoperasikan BioDigital Human atau merancang Augmented Reality (AR) memberikan perspektif baru. Mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga arsitek pengalaman belajar.
Persepsi yang Membentuk Kompetensi
Mengapa pengalaman mencoba itu krusial? Karena persepsi awal mahasiswa terhadap teknologi akan menentukan adopsi mereka di masa depan. Penelitian saya mengenai persepsi siswa dan mahasiswa terhadap e-learning dan media digital mengungkap bahwa hambatan terbesar bukanlah pada ketiadaan alat, melainkan pada resistensi psikologis dan rendahnya efikasi diri.
Ketika mahasiswa calon guru diberikan ruang untuk mengeksplorasi video animasi grafis atau simulasi 3D secara mandiri, terjadi pergeseran persepsi. Teknologi yang tadinya dianggap “rumit” atau “sekadar tambahan” berubah menjadi “kebutuhan esensial”. Di sinilah kompetensi sebenarnya terbentuk—bukan melalui ceramah tentang teknologi, melainkan melalui proses trial and error yang membangun rasa percaya diri digital.
Tantangan ke Depan: Literasi di Era Disrupsi
Namun, tantangan ke depan semakin kompleks. Kita tidak lagi hanya bicara tentang bisa mengoperasikan Google Classroom atau membuat kuis daring. Kita sedang memasuki era kecerdasan buatan (AI) dan personalisasi pembelajaran yang masif.
Literasi digital mahasiswa calon guru harus melompat dari sekadar “mampu menggunakan” menjadi “mampu mengevaluasi secara kritis”. Bagaimana teknologi dapat menyederhanakan konsep abstrak—seperti sistem saraf atau klasifikasi tumbuhan yang sering dianggap sulit dalam Biologi—tanpa menghilangkan esensi ilmiahnya? Ini adalah tantangan pedagogis yang hanya bisa dijawab jika calon guru memiliki jam terbang eksplorasi yang tinggi.
Penutup: Bergerak dari Tahu ke Mampu
Institusi pendidikan harus menjadi laboratorium raksasa di mana mahasiswa calon guru boleh melakukan kesalahan saat mencoba teknologi. Kita harus mendorong mahasiswa untuk berani “mengutak-atik” platform digital, gagal, lalu memperbaikinya.
Sebagai pendidik, tugas kita bukan hanya membekali mereka dengan perangkat, tetapi dengan mentalitas pembelajar sirkular. Mari kita dorong mahasiswa calon guru untuk tidak hanya menjadi guru yang “melek teknologi”, tapi guru yang mampu menginspirasi melalui integrasi teknologi yang humanis dan transformatif. Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat; namun di tangan guru yang tepat dan berpengalaman, ia adalah kunci pembuka potensi masa depan.



